bandara internasional lombok
Bandara Internasional Lombok (BIL) di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat,
dalam tiga hari ini menjadi obyek wisata atau pelesiran bagi masyarakat sekitar
lingkar bandara. Mereka berbondong-bondong menyaksikan lalu-lalang pesawat,
sembari membawa bekal untuk makan siang atau pun makan malam.
"Aiiii, to bat langan kapal nu kelep, (aiii, ke arah barat
pesawat itu terbang," ujar H Zohdi, warga Lingkungan Bual, Desa Gerantung,
Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah, yang berdiri di pagar kawat pembatas
apron BIL.
Senin siang, pagar pembatas itu dipenuhi oleh warga yang menyaksikan pesawat
yang lepas landas dan landing di BIL yang memiliki landasan pacu 2.750 meter
itu. Untuk itu, H Zohdi bersama puluhan tetangganya, misalnya mengeluarkan
ongkos angkutan umum Rp 5.000 per orang. Zohdi berada di BIL pukul 07.00, dan
bar u meninggalkan bandara itu pukul 14.00.

Sebelum pulang, para pengunjung membuka bekal makan siang yang dibawa dari
rumah, duduk menggelepar di pelataran terminal BIL. Sambil menyantap bekal,
mata mereka s esekali menengok ke run way guna memastikan ada-tidaknya pesawat
yang lepas landas maupun landing.
Saya ingin tahu, karena selama ini cuma nonton lewat televisi saja bagaimana
kapal terbang naik-turun, kata Sudirman, warga Desa Kute, Kecamatan Pujut,
Lombok Tengah. Sudirman ingin membuang rasa penasaran, sebab sejak BIL diresmikan
dia mendapat cerita dari tetangganya. Hari itu Sudirman bersama isteri-anaknya
ber sepeda motor ke BIL yang berjarak 30 km dari kampungnya.
Menjelang sore hingga tengah malam, sampai pesawat terakhir menyentuh
landasan pacu, BIL ibarat pasar malam. Masyarakat dari berbagai asal di Lombok
Tengah, setidaknya dalam dua hari belakangan, meluangkan waktu u ntuk
menyaksikan aktivitas di BIL. Tas kresek berisi bungkusan nasi, lauk-pauk dan
minuman dalam botol menjadi barang bawaan utama mereka.
Bupati Lombok Tengah, Suhaili FT, mengatakan, pihaknya memahami perasaan
warga yang selama ini mendambakan keberadaan BIL. Inilah salah satu ekspresi
warga kami yang selama ini cuma mendengar cerita bahwa akan dibangun disini,
ujarnya.
Untuk itu BIL selama dua hari pengunjung dibebaskan masuk BIL, dengan
konsekwensi adalah suasana bandara itu kotor oleh sampah, bagaikan di obyek
wisata, pasar malam, adanya pasar kaget dan istilah lainnya.
Namun hari ketiga ini, jajaran Pemkab Lombok Tengah bersama PT Angkasa Pura,
melakukan pendekatan persuasif, memberikan pemahaman kepada warga dan pedagang
berbagai aturan yang berlaku dalam Bandara. Namanya yang diatur orang banyak,
dan tiap orang punya keinginan. Mudah-mudah, hari-hari berikutnya BIL ini
menjadi lebih tertib, ujar Bupati Suhaili.